Senin, 25 Maret 2013

IRONI PERPUSTAKAAN SEKOLAH



Sekolah bermutu indentik dengan sarana dan prasarana lengkap serta modern. Tentunya perpustakaan menjadi salah satu penunjang sekolah bermuta. Apalagi sekarang sedang di implementasikan Kurikulum  Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang berorientasi pada keaktifan siswa, sedangkan guru hanya fasilitator.
 
Nah,  disinilah fungsi perpustakaan sekolah untuk menunjang proses belajar mengajar. Perpustakaan dan pustakawan menjadi rujukan siswa dalam mencari bahan dalam berbagai materi pembelajaran. Pustaka  menyediakan buku-buku up to date dan memberikan servis informasi  dengan kecepatan tinggi (internet).
Problemnya sekarang adalah kurang berfungsinya perpustakaan tersebut sebagaimana mestinya. Sekolah-sekolah di Aceh belum dapat berfungsi dengan semestinya. Dan yang lebih menyedihkan melihat perpustakaan yang berubah fungsi, hal yang semestinya tempat memperoleh ilmu pengetahuan (membaca), berubah fungsi menjadi tempat penyimpanan barang-barang yang tidak dipakai lagi (baca: gudang). Alangkah sayangnya.
Kurang berfungsinya sebuah perpustakaan sekolah disebabkan oleh beberapa faktor. Antara lain kurangnya perhatian pihak-pihak yang berwenang terhadap perkembangan perpustakaan sekolah. Baik pihak sekolah maupun pengelola perpustakaan sendiri.
Fakta dilapangan, banyak pengelola perpustakaan sekolah adalah guru-guru sudah tak bisa dipakai lagi atau kurang berpotensi dalam mengajar. Faktor umur yang sudah lanjut maupun kurang ahli dalam mengajar. Karena berbagai pertimbangan  ditempatkan diperpustakaan. Ada juga petugas perpustakaan yang kurang bersahabat dengan pengunjung (siswa). Ketika   Jika demikian adanya, tenaga pustaka akan merasa enggan untuk memperhatikan perkembangan perpustakaan.
Di sisi lain letak perpustakaan yang kurang strategis mengurangi minat siswa untuk masuk  ke perpustakaan. Adakalanya ruang perpustakaan tempatnya terpisah di lantai atas. Belum lagi buku-buku yang disediakan di perpustakaan dari tahun ke tahun buku itu-itu saja. Kalaupun ada pengadaan buku  hanyalah buku paket. Sedangkan buku penunjang lain yang menggerakkan minat  baca masih sangat minim. Bahkan mungkin tidak ada. Faktor inilah yang menyebabkan siswa lebih senang ngobrol di kantin atau di pojok – pojok kelas kelas ketika  mata pelajaran kosong atau jam istirahat.
            Ketika  mutu pendidikan kita hancur-hancuran seperti sekarang ini, siapa yang disalahkan? Para guru, sekolah, atau para orang tua. Untuk saat seperti sekarang ini bukan waktunya saling menyalahkan. Mari sama-sama  menginstropeksi diri untuk meningkatkan mutu pendidikan kita. Salah satunya cara adalah meningkatkan minat baca para siswa.
            Antara minat baca dan perkembangan perpustakaan saling mempengaruhi. Karena minat baca tersebut harus di pupuk dan dikembangkan, tak bisa tumbuh  secara alami pada diri seorang anak. Apalagi sekarang, bila membaca tidak dibiasakan akan menjadi hantu yang menakutkan bagi seorang anak karena banyak faktornya penghambat minat baca. Televisi, playtasion, game, merupakan contoh nyata melenakan anak. Di sisi lain, kurangnya keteladanan orangtua dalam pemanfaatan waktu luang untuk membaca dalam keluarga. Juga memberi dampak terhadap perkembangan minat baca anak.
Di samping itu, ada sebuah wadah yang menjembatangi perkembangan minat baca pada siswa (anak) yaitu adanya sebuah perpustakaan yang memadai. Pada saat pertama  memperkenalkan perpustakaan sekolah kepada siswa, kita tak perlu memaksa mareka untuk membaca. Tapi usahakanlah untuk menarik minat mareka untuk memasuki perpustakaan. Terserah mareka mau membaca atau  sekadar mengobrol. Dan di sini peran guru sangat berpengaruh ketika mengajar. Guru bisa saja menjelaskan suatu hal dengan memberikan tanda tanya kepada siswa. Lalu mengatakan bahwa hal tersebut lebih lengkapnya bisa dibaca di buku ini yang ada di perpustakaan. Seperti kata pepatah “buku adalah jendela dunia dan perpustakaan adalah pintunya”
            Selain itu ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menarik minat para siswa untuk memasuki perpustakaan. Kita itu antara lain menciptakan suasana ruang perpustakaan yang nyaman. Senyaman pengunjung memasuki restoran atau cafe yang dingin dan sejuk. Melengkapi koleksi perpustakaan dengan buku-buku yang menarik. Selama ini, hampir semua perpustakaan sekolah hanya menyediakan buku-buku paket untuk siswa dan beberapa buku cerita rakyat yang sudah kusam warnanya. Bahkan ada buku yang sudah tak bersampul lagi. Jangankan menarik minat membacanya, melihat saja sudah ogah.
Pengelola perpustakaan harus dapat membaca minat siswa terhadap bahan bacaan. Kebanyakan usia pelajar lebih menyukai bacaan-bacaan ringan semisal  cerita komik daripada  bacaan buku pelajaran yang bersifat ilmiah. Tidak ada salahnya pustakawan dan khususnya kepala sekolah mengalokasikan dana untuk menyediakan koleksi-koleksi komik yang bersifat mendidik untuk menarik minat baca siswa. Apalagi sekarang cukup banyak penerbit yang menyediakan cerita-cerita atau komik Islam  yang sangat baik terhadap pendidikan anak dan remaja.
Begitu juga halnya dekorasi ruangan yang menarik sangat mempengaruhi minat pengunjung. Karena pada dasarnya perpustakaan tidak saja berfungsi sebagai tempat membaca atau mencari ilmu tapi bisa juga menjadi tempat rekreasi  yang menyenangkan. Pada perpustakaan-perpustakaan yang maju sudah menyediakan tempat bermain bagi anak-anak sambil  membaca. Bahkan di luar negeri, seperti Malaysia, Filipina dan negara-negara maju lainnya. Peneliti atau pengguna jasa perpustakaan dapat bermalam di perpustakaan.
Sebagai penunjang kenyamanan pengunjung, tak berlebihan kiranya menyediakan WC, musalla ataupun semacam kantin kecil (air dingin di kulkas) pelepas dahaga. Ketika pengunjung merasa membutuhkan hal-hal tersebut tak perlu beranjak keluar ruangan.
            Dan yang lebih penting diperhatikan untuk menarik minat pengunjung adalah petugas perpustakaan atau pustakawannya.  Pustakawan/i merupakan orang yang bertugas melayani pengunjung perpustakaan. Mereka diharapkan mampu memberikan pelayanan yang terbaik. Dengan sikapnya yang  lemah lembut, ramah dan murah senyum kepada pengunjung. Sehingga perpustakaan tak berkesan angker dengan penunggunya seorang yang tak bersahabat. 
Di samping itu juga, perlu adanya promosi kepada siswa baik berupa perlombaan membaca, mengarang ataupun lomba bercerita sehingga secara tak langsung para siswa akan masuk ke perpustakaan mencari bahan rujukan buku yang diperlukan.
            Ketika perpustakaan sekolah telah berfungsi sebagaimana mestinya, proses belajar berjalan dengan lancar, kualitas para siswa secara bertahap akan meningkat. Tidakkah kita merindukan mutu pendidikan Aceh tak lagi terpuruk? Wallahua’lam bisshawab.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

silahka komentar dengan bahasa yang santun